In this photo taken on Wednesday, March 4, 2015, common salad lettuce is seen growing under banks of LED light panels at the ARWIN plant factory in Miaoli, northern Taiwan. Entrepreneurs in Taiwan are combining the island’s leading edge in light-emitting diodes (LEDs) with its traditional agricultural know-how to create artificial environments to grow vegetables. These indoor grow-rooms have nutrient-filled water instead of soil and variable LED lighting to imitate the cycle of night and day. They are gaining popularity for raising everything from common lettuce to the exotic South African ice plant, which draws US $400 per kilogram. These LED-lit hydroponic environments yield more crops per area than soil but without the need for traditional toxic pesticides. (AP Photo/Wally Santana)

Plant Factory merupakan topik yang menarik bagi peneliti akhir-akhir ini. Pada tulisan ini saya akan coba mereview perkembangan Plant Factory dan beberapa teknologi yang digunakan. Tidak bisa dipungkiri pemenuhan kebutuhan pangan dari waktu ke waktu akan menjadi masalah yang serius. Nantinya lahan pertanian pangan juga akan sangat terbatas, sementara permintaan akan terus naik seiring dengan pertumbuhan penduduk.

 

Kegiatan pertanian yang kita kenal di Indonesia adalah kegiatan pertanian di lahan terbuka (open field). Sementara beberapa peneliti beberapa tahun terakhir sudah banyak yang mengembangkan lingkungan terkontrol dan tidak terkontrol dengan Greenhouse. Tentu sistem dan metode ini sudah sangat kita kenal. Akhir-akhir ini para peneliti mengembangkan sistem budidaya di lingkungan dalam ruangan (indoor). Nah sistem inilah yang dikenal dengan istilah Plant Factory.

Plant Factory atau dalam bahasa Indonesia bisa disebut pabrik tanaman. Istilah plant factory sendiri di Indonesia masih belum banyak dikenal, bahkan istilah baku bahasa Indonesianya juga sepertinya belum ada. Para peneliti di Indonesia masih banyak yang merasa belum perlu masuk ke dunia ini. Pabrik tanaman, dimana tanaman nanti di produksi di sebuah hall (ruangan) dengan sistem vertikal sehingga akan menghemat lahan.

Jika kita definisikan plant factory adalah “budidaya tanaman pada lingkungan tertutup (indoor) dengan cahaya buatan baik menggunakan lampu fluoroscent maupuan Light Emiting Diode (LED)”. Pertanian yang dilakukan di dalam ruangan menurunkan resiko yang diakibatkan adanya fluktuasi kondisi lingkungan diluar. Pengendalian terhadap intensitas cahaya, suhu, kelembaban dan kebutuhan air dapat meningkatkan efisiensi dalam kegiatan budidaya. Pertanian dalam ruangan juga akan mengefisienkan penggunaan energi, air dan mengurangsi sampah dan dapat digunakan pada lahan yang lebih sempit dibandingkan dengan pertanian tradisional.

Perkembangan plant factory diawali dengan perkembangan teknologi budidaya dalam lingkungan terkontrol seperti greenhouse. Peneliti dan para pengusaha berusaha untuk melakukan pengontrolan terhadap parameter lingkungan penting dalam kegiatan budidaya pertanian. Parameter lingkungan yang dikendalikan diantaranya adalah : intensitas cahaya, suhu lingkungan budidaya, kelembaban udara dan suhu.

Selain itu, perkembangan selanjutnya adalah budidaya yang awalnya dilakukan di tanah dapat dilakukan di media hidroponik. Hidroponik sendiri merujuk pada budidaya tanaman pada air yang berisi larutan nutrisi yang dibutuhkan tanaman. Model budidayanya juga berbagai macam mulai dari nutrient film techniques (NFT), deep flow techniques (DFT), rakit apung dan aeroponik. Pada metode budidaya ini, yang paling banyak di kontrol adalah larutan nutrisi yang dibutuhkan tanaman. Kontrol larutan nutrisi sendiri dilakukan untuk mengendalikan Electric Conductivity (EC) dan kandungan dari nutrisi yang ada di dalam larutan tersebut.

Selanjutnya pada penanaman dengan hidroponik umumnya dilakukan di lingkungan tertutup (greenhouse) yang atapnya transparan untuk mensupply cahaya matahari yang digunakan untuk proses fotosintesis. Kalau kita lihat spektrum cahaya pada proses fotosintesis antara 400 s.d. 700 nm. Tentu panjang gelombang yang dibutuhkan tanaman hanya bisa dikendalikan dengan memilih jenis atap yang digunakan.

Selanjutnya, berkembang teknologi yang dapat menggantikan gelombang yang dihasilkan oleh sinar matahari dengan menggunakan cahaya buatan. Hal ini didasari oleh pentingnya melakukan pengendalian terhadap gelombang cahaya. Jika tidak ada cayaha matahari maka proses fotosintesis tidak akan sempurna.

Ditulis oleh : Supriyanto

Leave a Comment